Sabtu, 30 Agustus 2008

Reni Gadis Karaoke

Istri sudah punya. Anak juga sudah sepasang. Rumah, meskipun cuma rumah BTN 
juga sudah punya. Mobil juga meski kreditan sudah punya. Mau apalagi? Pada 
awalnya aku cuma iseng-iseng saja. Lama-lama jadi keterusan juga. Dan itu semua 
karena makan buah terlarang.  
Kehidupan rumah tanggaku sebetulnya sangat bahagia. Istriku cantik, seksi dan 
selalu menggairahkan. Dari perkawinan kami kini telah terlahir seorang anak laki-laki 
berusia delapan tahun dan seorang anak cantik berusia tiga tahun, aku cuma 
pegawai negeri yang kebetulan ounya kedudukan dan jabatan yang lumayan.  
Tapi hampir saja biduk rumah tanggaku dihantam badai. Dam memang semua ini 
bisa terjadi karena keisenganku, bermain-main api hingga hampir saja 
menghanguskan mahligai rumah tanggaku yang damai. Aku sendiri tidak menyangka 
kalau bisa menjadi keterusan begitu.  
Awalnya aku cuma iseng-iseng main kesebuah klub karaoke. Tidak disangka disana 
banyak juga gadis-gadis cantik berusia remaja. Tingkah laku mereka sangat 
menggoda. Dan mereka memang sengaja datang kesana untuk mencari 
kesenangan. Tapi tidak sedikit yang sengaja mencari laki-laki hidung belang.  
Terus terang waktu itu aku sebenarnya tertarik dengan salah seorang gadis disana. 
Wajahnya cantik, Tubuhnya juga padat dan sintal, Kulitnya kuning langsat. Dan aku 
memperkirakan umurnya tidak lebih dari delapan belas tahun. Aku ingin 
mendekatinya, tapi ada keraguan dalam hati. Aku hanya memandanginya saja 
sambil menikmati minuman ringan, dan mendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan 
pengunjung secara bergantian.  
Tapi sungguh tidak diduga sama sekali ternaya gadis itu tahu kalau aku sedari tadi 
memperhatikannya. Sambil tersenyum dia menghampiriku, dan langsung saja duduk 
disampingku. Bahkan tanpa malu-malu lagi meletakkan tangannya diatas pahaku. 
Tentu saja aku sangat terkejut dengan keberaniannyayang kuanggap luar biasa ini.  
“Sendirian aja nih .. Omm..,” sapanya dengan senyuman menggoda.  
“Eh, iya..,” sahutku agak tergagap.  
“Perlu teman nggak..?” dia langsung menawarkan diri.  
Aku tidk bisa langsung menjawab. Sunnguh mati, aku benar-benar tidak tahu kalu 
gadis muda belia ini sungguh pandai merayu. Sehingga aku tidak sanggup lagi ketika 
dia minta ditraktir minum. Meskipun baru beberapa saat kenal, tapi sikapnya sudah 
begitu manja. Bahkan seakan dia sudah lama mengenalku. Padahal baru malam ini 
aku datang ke klub karaoke ini dan bertemu dengannya.  
Semula aku memang canggung, Tapi lama-kelamaan jadi biasa juga. Bahkan aku 
mulai berani meraba-raba dan meremas-remas pahanya. Memang dia mengenakan 
rok yang cukup pendek, sehingga sebagian pahanya jadi terbuka.  
Hampir tengah malam aku baru pulang. Sebenarnya aku tidak biasa pulang sampai 
larut malam begini. Tapi istriku tidak rewel dan tidak banyak bertanya. Sepanjang 
malam aku tidak bisa tidur. Wajah gadis itu masih terus membayang dipelupuk 
mata. Senyumnya, dan kemanjaannya membuatku jadi seperti kembali kemasa 
remaja.  
Esoknya Aku datang lagi ke klub karaoke itu, dan ternyata gadis itu juga datang 
kesana. Pertemuan kedua ini sudah tidak membuatku canggung lagi. Bahkan kini 
aku sudah berani mencium pipinya. Malam itu akau benar-benar lupa pada anak dan 
istri dirumah. Aku bersenang-senang dengan gadis yang sebaya dengan adikku. Kali 
ini aku justru pulang menjelang subuh.  
Mungkin karena istriku tidak pernah bertanya, dan juga tidak rewel. Aku jadi 
keranjingan pergi ke klub karaoke itu. Dan setiap kali datang, selalu saja gadis itu 
yang menemaniku. Dia menyebut namanya Reni. Entah benar atau tidak, aku sendiri 
tidak peduli. Tapi malam itu tidak seperti biasanya. Reni mengajakku keluar 
meninggalkan klub karaoke. Aku menurut saja, dan berputar-putar mengelilingi kota 
jakarta dengan kijang kreditan yang belum lunas.  
Entah kenapa, tiba-tiba aku punya pikiran untuk membawa gadis ini kesebuah 
penginapan. Sungguh aku tidak menyangka sama sekali ternyata Reni tidak menolak 
ketika aku mampir dihalaman depan sebuah losmen. Dan dia juga tidak mnolak 
ketika aku membawanya masuk kesebuah kamar yang telah kupesan.  
Jari-jariku langsung bergerak aktif menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Bahkan 
wajahnya dan lehernya kuhujani dengan ciuman-ciuman yang membangkitkan 
gairah. Aku mendengar dia mendesah kecil dan merintih tertahan.Aku tahu kalau 
Reni sudah mulai dihinggapi kobaran api gairah asmara yang membara.  
Perlahan aku membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan satu persatu aku melucuti 
pakaian yang dikenakan Reni, hingga tanpa busana sama sekali yang melekat 
ditubuh Reni yang padat berisi. Reni mendesis dan merintih pelan saat ujung lidahku 
yang basah dan hangat mulai bermain dan menggelitik puting payudaranya. Sekujur 
tubuhnya langsung bergetar hebat saat ujung jariku mulai menyentuh bagian 
tubuhnya yang paling rawan dan sensitif. Jari-jemariku bermain-main dipinggiran 
daerah rawan itu. Tapi itu sudah cukup membuat Reni menggerinjing dan semakin 
bergairah.  
Tergesa-gesa aku menanggalkan seluruh pakaian yang kukenakan, dan menuntun 
tangan gadis itu kearah batang penisku. Entah kenapa, tiba-tiba Reni menatap 
wajahku, saat jari-jari tangannya menggenggam batang penis kebangganku ini, Tapi 
hanya sebentar saja dia menggenggam penisku dan kemudian melepaskannya. 
Bahkan dia melipat pahanya yang indah untuk menutupi keindahan pagarayu-nya.  
“Jangan, Omm…, ” desah Reni tertahan, ketika aku mencoba untuk membuka 
kembali lipa tan pahanya.  
“Kenapa?” tanyaku sambil menciumi bagian belakang telinganya.  
“Aku.. hmm, aku…” Reni tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia malah menggigit 
bahuku, tidak sanggup untuk menahan gairah yang semakin besar menguasai 
seluruh bagian tubuhnya. Saat itu Reni kemudian tidak bisa lagi menolak dan 
melawan gairahnya sendiri, sehingga dikit demi sedikit lipatan pahanya yang 
menutupi vaginanya mulai sedikit-demi sedikit terkuak, dan aku kemudian 
merenggangkannya kedua belah pahanya yang putih mulus itu sehingga aku bisa 
puas-puas menikmati keindahan bentuk vagina gadis muda ini yang mulai tampak 
merekah.  
Dan matanya langsung terpejam saat merasakan sesuatu benda yang keras, panas 
dan berdenyut-denyut mulai menyeruak memasuki liang vaginanya yang mulai 
membasah. Dia menggeliat-geliat sehingga membuat batang penisku jadi sulit untuk 
menembus lubang vaginanya. Tapi aku tidak kehilangan akal. Aku memeluk 
tubuhnya dengan erat sehingga Reni saat itu tidak bisa leluasa menggerak-gerakan 
lagi tubuhnya. Saat itu juga aku menekan pinggulku dengan kuat sekali agar 
seranganku tidak gagal lagi.  
Berhasil!, begitu kepala penisku memasuki liang vagina Reni yang sempit, aku 
langsung menghentakan pinggulku kedepan sehingga batang penisku melesak 
kedalam liang vagina Reni dengan seutuhnya, seketika itu juga Reni memekik 
tertahan sambil menyembunyikan wajahnya dibahuku, Seluruh urat-urat syarafnya 
langsung mengejang kaku. Dan keringat langsung bercucuran membasahi tubuhnya. 
Saat itu aku juga sangat tersentak kaget, aku merasakan bahwa batang penisku 
seakan merobek sesuatu didalam vagina Reni, dan ini pernah kurasakan pula pada 
malam pertamaku, saat aku mengambil kegadisan dari istriku. Aku hampir tidak 
percaya bahwa malam ini aku juga mengambil keperawan dari gadis yang begitu aku 
suka i ini. Dan aku seolah masih tidak percaya bahwa Reni ternyata masih perawan.  
Aku bisa mengetahui ketika kuraba pada bagian pangkal pahanya, terdapat cairan 
kental yang hangat dan berwarna merah. Aku benar-benar terkejut saat itu, dan tidk 
menyangka sama sekali, Reni tidak pernah mengatakannya sejak semula. Tapi itu 
semua sudah terjadi. Dan rasa terkejutku seketika lenyap oleh desakan gairah 
membara yang begitu berkobar-kobar.  
Aku mulai menggerak-gerakan tubuhku, agar penisku dapat bermain-main didalam 
lubang vagina Renny yang masih begitu rapat dan kenyal, Sementara Reni sudah 
mulai tampak tidak kesakitan dan sesekali tampak diwajahnya dia sudah bisa mulai 
merasakan kenikmatan dari gerakan-gerakan maju mundur penisku seakan 
membawanya ke batas ujung dunia tak bertepi.  
Malam itu juga Reni menyerahkan keperawannya padaku tanpa ada unsur paksaan. 
Meskipun dia kemudian menangis setelah semuanya terjadi, Dan aku sendiri merasa 
menyesal karena aku tidak mungkin mengembalikan keperawanannya. Aku 
memandangi bercak-bercak darah yang mengotori sprei sambil memeluk tubuh Reni 
yang masih polos dan sesekali masih terdengar isak tangisnya.  
“Maafkan aku, Reni. Aku tidak tahu kalau kamu masih perawan. Seharusnya kamu 
bilang sejak semula…,” kataku mencoba menghibur.  
Reny hanya diam saja. Dia melepaskan pelukanku dan turun dari pembaringan. Dia 
melangkah gontai kekamar mandi. Sebentar saja sudah terdengar suara air yang 
menghantam lantai didalam kamar mandi. Sedangkan aku masih duduk diranjang 
ini, bersandar pada kepala pembaringan.  
Aku menunggu sampai Reni keluar dari kamar mandi dengan tubuh terlilit handuk 
dan rambut yang basah. Aku terus memandanginya dengan berbagai perasaan 
berkecamuk didalam dada. Bagaimanapun aku sudah merenggut kegadisannya. Dan 
itu terjadi tanpa dapat dicegah kembali. Reni duduk disisi pembaringan sambil 
mengeringkan rambutnya dengan handuk lain.  
Aku memeluk pinggangnya, dan menciumi punggungnya yang putih dan halus. Reni 
menggeliat sedikit, tapi tidk menolak ketika aku membawanya kembali berbaring 
diatas ranjang. Gairahku kembali bangkit saat handuk yang melilit tubuhnya terlepas 
dan terbentang pemandangan yang begitu menggairahkan datang dari keindahan 
kedua belah payudaranya yang kencang dan montok, serta keindahan dari bulu-bulu 
halus tipis yang menghiasi disekitar vaginanya.  
Dan secepat kilat aku kembali menghujani tubunya dengan kecupan-kecupan yang 
membangkitkan gairahnya. Reni merintih tertahan, menahan gejolak gairahnya yang 
mendadak saja terusik kembali.  
“Pelan-pelan, Omm. Perih….,” rintih Reni tertahan, saat aku mulai kembali 
mendobrak benteng pagarayunya untuk yang kedua kalinya. Renny menyeringai dan 
merintih tertahan sambil mengigit-gigit bibirnya sendiri, saat aku sudah mulai 
menggerak-gerakan pinggulku dengan irama yang tetap dan teratur.  
Perlahan tapi pasti, Reni mulai mengimbangi gerakan tubuhku. Sementara gerakan-
gerakan yang kulakukan semakin liar dan tak terkendali. Beberapa kali Reni 
memekik tertahan dengan tubuh terguncang dan menggeletar bagai tersengat 
kenikmatan klimaks ribuan volt. Kali ini Reni mencapai puncak orgasme yang 
mungkin pertama kali baru dirasakannya. Tubuhnya langsung lunglai dipembaringan, 
dan aku merasakan denyutan-denyutan lembut dari dalam vaginanya, merasakan 
kenikmatan denyut-denyut vagina Reni, membuat aku hilang kontrol dan tidak 
mampu menahan lagi permainan ini.. hingga akhirnya aku merasakan kejatan-
kejatan hebat disertai kenikmatan luar biasa saat cairan spermaku muncrat 
berhamburan didalam liang vagina Renny. Akupun akhirnya rebah tak bertenaga dan 
tidur berpelukan dengan Reni malam itu.  

Tidak ada komentar: