Namaku Andy, umurku 25 tahun, pekerjaanku sebagai tukang service televisi.
Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, sewaktu aku mendapat job memperbaiki televisi di salah satu rumah di kawasan elite yang ada di kotaku. Oleh bos tempat aku bekerja, aku diberikan alamat tempat aku akan memperbaiki televisi.
Aku berangkat dengan motor butut milikku. Tak lama berselang aku sampai di depan rumah yang aku tuju. Kubuka pintu gerbang yang tak terkunci itu dan kutekan bel yang ada di depan pintu. Beberapa menit kemudian, pintu rumah pun terbuka dan muncullah seorang wanita yang cukup cantik dan seksi.
“Maaf Nyonya, saya teknisi service televisi yang ditelepon bapak tadi” kataku padanya“Oh ya, mari silahkan masuk” katanya padaku
Akupun masuk mengikuti wanita yang ada didepanku ini. Sambil mataku nakal memelototi pantatnya yang bergoyang seirama dengan gerak langkahnya.
“Ini, Mas, televisi yang akan diperbaiki itu” katanya padaku.
Tanpa basa basi lagi aku segera membongkar televisi tersebut. Sementara itu Nyonya cantik itu duduk memperhatikan aku bekerja. Sambil bekerja, mataku sesekali melirik ke arah wanita itu. Cantik sekali wanita ini pikirku.
Beberapa saat suasana terasa hening dan sepi,namun tak berapa berselang wanita itu menanyakan namaku.
“Maaf Mas, namanya siapa nih ?” tanyanya padaku
“Andy, Nyonya, jangan panggil Mas dech” jawabku
“Panggil nama aja ya ? lanjutku
“Saya Asti, panggil aja Mbak Asti, jangan Nyonya“ katanya padaku
“Oh ya, Dek, saya tinggal dulu ya, mau mandi nih” katanya lagi sambil melirik nakal.
“Silahkan Mbak” jawabku padanya.
Mbak Asti bangkit meninggalkan diriku seorang diri di ruang tengah sambil melangkah ke arah kamar tidurnya. Kuperhatikan di sekelilingku terasa sepi, tidak ada tanda-tanda kalau didalam rumah ini ada orang lain selain aku dan Mbak Asti
Merasa ada kesempatan, timbul pikiran kotor dalam otakku untuk mengintip Mbak Asti yang akan mandi. Dari tadi kuperhatikan Mbak Asti sangat menggairahkan sekali. Kalau nasib lagi berpihak padaku, mungkin saja nanti aku dapat menikmati tubuh Mbak Asti secara gratis. Wah... asyik sekali nih.
Aku mencari cara agar dapat mengintip Mbak Asti. Akhirnya kudapatkan sebuah kursi tinggi agar dapat mengintip kedalam lewat lubang angin yang ada diatas pintu. Akupun naik diatas kursi dan karena besarnya lubang angin itu sehingga aku dapat melihat seluruh isi kamar mandi itu.
Mbak Asti nampak mulai membuka baju lengan panjang kuning mudanya disusul kemudian rok panjangnya yang berwarna hitam itu. Aku menelan ludah saat Mbak Asti menyampirkan bajunya itu di gantungan kamar mandi, kulihat dengan jelas tampak ketiak Mbak Asti ditumbuhi bulu-bulu ketiak yang cukup lebat. Sungguh pemandangan yang sangat menggoda syahwatku. Tubuhnya sekarang tinggal terbalut oleh celana dalam dan BH berendanya saja yang berwarna krem. Itupun tak berlangsung lama, karena diapun segera melucutinya sehingga tubuh putih mulus itu sekarang sudah benar-benar telanjang bulat tanpa selembar benangpun yang menutupinya. Dadaku serasa bergemuruh dan ******ku langsung tegak mengacung menyaksikan pemandangan yang sangat luar biasa indah dan merangsang ini.
Perlahan ia mengolesi seluruh tubuhnya dengan sabun cair, lalu kedua tangannya meremasi susunya dan berputar-putar diujungnya. Batang ******ku serasa diurut merasakan pijatannya. Dengan posisi berdiri sambil bersandar ke dinding Mbak Asti meneruskan permainannya ke bawah kearah selangkangannya, sementara matanya tertutup rapat dan dari bibirnya tersungging senyuman yang sangat menggairahkan.
Namun naas bagiku, karena keasyikan menyaksikan pemandangan gratis yang sangat merangsang itu, tak terasa kursi tempat aku berpijak pun goyang dan akupun terjatuh. Aku terkejut ketika ada suara dari dalam kamar mandi.
“Masuk aja, pintunya nggak dikunci kok” kata Mbak Asti dari dalam kamar mandi.
Bagai mendapat durian runtuh perlahan akupun membuka pintu kamar mandi tersebut. Dan benar kiranya, pintu kamar mandinya nggak dikunci sama sekali.
“Maaf ya, Mbak... saya tidak sengaja nih” kataku
Aku seperti patung menyaksikan pemandangan indah yang tak pernah kubayangkan itu. Mbak Asti tersenyum sangat manis sekali, dan tanpa canggung lagi melambaikan tangannya agar aku lebih dekat lagi. Dan tanpa diulang dua kalipun aku segera mendekatinya.
Dengan posisi duduk diatas bak mandi, Mbak Asti menyuruh aku membuka seluruh pakaianku. Tanpa rasa malu, aku perlahan membuka pakaianku, sehingga tak lama kemudian akupun kini telanjang bulat bersama Mbak Asti didalam kamar mandi rumahnya. Batang ******ku sudah pada posisi yang maksimal, mengacung keras meminta perhataian Mbak Asti. Mbak Astipun melangkah menghampiriku.
“******nya gede banget ya, boleh nih dicoba ?” tanyanya padaku
“Oh... boleh Mbak...” jawabku sambil menggenggam tangannya tangannya yang lembut dan ditumbuhi bulu-bulu halus yang cukup banyak itu dan kuarahkan ke batang ******ku yang tegang dan mengeras. Ahh... nikmat sekali terasa ketika tangannya bergerak maju mundur meloco ******. Segera kuraih dua bukit kembar yang ada dihadapanku dan meremasinya sambil mulut kami saling berpagutan dengan sangat bernafsunya.
Aku tak habis pikir, kenapa Mbak Asti sangat bergairah denganku. Mungkin saja karena suaminya yang sudah cukup tua dan tak mampu memenuhi nafsu birahinya yang sangat besar. Padahal menurutku, Mbak Asti cukup cantik dan bahkan sangat cantik, usianya mungkin sekitar 29 tahun, dengan tinggi 165 cm dan berat 50 kg, rambutnya hitam lebat panjang sepunggung. Hidungnya mancung, bibirnya agak tebal, sensual sekali, dan badannya padat berisi ,apalagi ketika kuremas-remas susunya yang meskipun ukuran BHnya hanya 32-A tetapi jelas sekali masih seperti anak perawan. Membuatku sangat gemas sekali menyedot ujung puting susunya yang berwarna merah kecoklatan itu dan tampak sudah tegak mengacung dengan maksimal, pertanda birahi Mbak Asti sudah demikian tingginya butuh pelampiasan. Lidahku mengais agak ngawur kesana dan kesini. Tapi semakin ngawur semakin membuat Mbak Asti bersemangat mengocok batang ******ku yang tegak berdiri.
Aku segera membalikkan badan Mbak Asti kemudian mendudukkannya di pinggiran bak mandi itu dan kedua kakinya kuangkat sehingga berpijak pada pinggiran bak mandi itu dengan posisi mengangkang lebar. Dengan posisi ini Mbak Asti sudah siap dalam posisi persetubuhan yang sebentar lagi akan menuntaskan dendam birahinya itu. Bagian tubuhnya yang selama ini tertutup rapat dan tidak pernah dipertontonkan kepada lelaki lain selain suaminya itu kini kelihatan terbuka lebar, nonok itu tampak berwarna kemerahan dan sudah sangat basah oleh lendir birahi menandakan Mbak Asti sudah sangat siap untuk disetubuhi, itilnya tampak sudah mencuat menantang dan ditumbuhi bulu-bulu jembut keriting yang sangat lebat sekali.
Lalu sekali tancap, blessss... batang ******ku amblas didalamnya. Kudiamkan sebentar dalam nonoknya yang terasa hangat dan berdenyut-denyut itu. Batang ******ku seperti diurut-urut oleh nonoknya Mbak Asti.
Beberapa menit kemudian aku coba mendorong batang ******ku maju mundur. Semakin lama tempo permainan semakin kencang. Kulihat Mbak Asti sangat menikmati persetubuhannya denganku di kamar mandi ini. Matanya terpejam merasakan batang ******ku yang bergerak maju mundur dalam lembah kewanitaannya yang lembab dan hangat serta berlendir itu
“Ohhhh... ahhhhh...’ desis Mbak Asti menahan nafsunya birahinya yang memuncak
“Oh... Dek... ******mu nikmat sekali...oh...lagi Dek... yess... yess...” rancaunya seperti orang kesetanan
“Ohhh... aku mau sampai nih Dek” erangnya padaku.
Tak berapa lama kemudian Mbak Asti pun sampai pada puncak orgasmenya. Terasa batang ******ku hangat dibasahi oleh cairan birahi Mbak Asti yang keluar dengan sangat derasnya itu.
Aku mencabut batang ******ku dari dalam memeknya Mbak Asti, kemudian aku menbalikkan badan Mbak Asti. Dengan posisi menungging, aku berusaha memasukkan batang ******ku ke lubang nonoknya Mbak Asti, bless... batang ******ku masuk kedalam lubang nonoknya yang masih basah dan lembab itu. Tanpa membuang buang waktu, aku segera mendorong maju mundur batang ******ku. Terdengan erangan dan nafas yang memburu dari mulut Mbak Asti merasakan desakan batang ******ku dalam nonoknya.
Beberapa menit kemudian,terasa sesuatu bergerak dari batang ******ku. Rupanya aku akan mencapai klimaks dari persetubuhan ini.
“Mbak... aku mau sampe nih...” kataku padanya.
“Keluarin diluar aja Dek” pinta Mbak Asti padaku
Aku mencabut batang ******ku dari dalam lubang senggamanya dan segera saja Mbak Asti meraihnya dan menghisap-hisap batang ******ku dengan buas dan sangat bernafsu seperti anak kecil lagi menghisap es mambo. Seluruh pejuku dihisap habis oleh Mbak Asti dengan rakusnya tanpa ada yang tersisa.
“Makasih Dek... Andy... kamu telah memuaskan birahi Mbak hari ini, Mbak puas banget deh hari ini” katanya padaku.
“Thank's juga Mbak... Mbak bener-bener menggairahkan” jawabku padanya
“Ah... kamu bisa aja deh’ katanya padaku sambil tersenyum genit“Ok deh Mbak... aku mau lanjutin dulu pekerjaanku nih” kataku lagi
Akupun keluar dari kamar mandi itu dan melanjutkan kembali pekerjaanku yang tadi terbengkalai.
“Pintunya jangan ditutup Dek,,” kata Mbak Asti kepadaku.
Akupun bekerja memperbaiki televisi yang rusak itu dengan sesekali menonton Mbak Asti lagi mandi bugil dengan jelas, karena pintu kamar mandinya tak tertutup. Mbak Asti selesai mandi dan kemudian berganti pakaian. Setelah itu ia kembaliI1 menghampiriku dam memperhatikan aku bekerja.
Pekerjaankupun akhirnya selesai dan berhasil dengan baik. Akupun akhirnya meninggalkan rumah itu setelah Mbak Asti memberikan ongkos service televisinya plus service kehangatan dariku. Sebenarnya aku menolak ,namun ia memaksaku dan berharap aku sesekali datang ke ruma.hnya lagi. Ya... biasa... service kehangatan dariku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar