Senin, 25 Agustus 2008

Kencanku Dengan Ike

Saya tidak pernah menyangka bahwa kesempatanku bertemu dengan Ike Nurjanah 
(artis dangdut) akan menjadi sesuatu yang tak kan pernah terlupakan. 
 
Tidak seperti biasanya saya paling malas jika mendapat tugas wawancara khusus 
dengan seseorang -artis cantik sekalipun. Tapi saat itu, kenapa begitu ada tugas dari 
Bos mewawancarai Ike untuk rubrik profil mingguan, aku langsung cabut. 
 
Janji wawancara dengan Ike telah disepakati di rumah seorang produser di sebuah 
apartemen di bilangan Jakarta Selatan. Ketika aku sampai ditempat yang dimaksud, 
Ike telah menungguku. Saat pertama bertemu -ini pertemuan pertamaku dengan 
dia- Ike terkesan cuek dan dingin. Namun karena dia sudah menyanggupi, dia 
mempersilahkan aku untuk masuk. Ruangan tamu yang tidak terlalu luas sedikit 
membuat aku tegang. Namun ketegangan itu mereda ketika Ike membawa dua 
gelas minuman dingin sambil mempersilahkan aku untuk menikmati minuman yang 
telah dihidangkan. 
''Terima kasih,'' kataku.  
''Kamu mau tanya apa, waktuku terbatas, jangan lebih satu jam,'' tutur mojang 
priangan yang sangat cantik ini. 
 
Gaya ketus Ike Nurjanah sempat membuat aku gugup. Apalagi dengan 
penampilannya sore itu yang aduhai -mengenakan kaos ketat ''you can see'' yang 
sangat tipis, dengan bawahan span yang sangat pendek, membuat aku semakin 
gugup.  
''Saya hanya ingin mendengar cerita pengalaman yang mengesankan dari Anda 
selama menjadi artis dangdut hingga setenar sekarang...'' aku mengawali 
pertanyaan. 
 
Wawancara semakin menarik dan hangat dan agaknya Ike lupa bahwa dia 
membatasiku hanya satu jam. Sebab ketika saya datang sudah pukul 16.30,tetapi 
saat ini jam telah menunjukkan pukul 18.00. Sampai pada suatu ketika usai 
melontarkan satu pertanyaan pribadi tentang orang yang menjadi dambaan hati, Ike 
manatapku tajam. 
''Orangnya mirip kamu,'' kata Ike seraya tersenyum. 
Aku menelan ludah, mana mungkin artis secantik dia cowoknya seperti aku. Dengan 
sedikit ge-er, aku menanyakan lagi apakah dia juga wartawan?  
''Ah, bukan. Dia pengangguran,'' Ike tertawa. 
 
Tetapi kemudian dia terdiam dan menatapku lebih tajam. Aku meletakkkan catatan, 
pena dan block note ke meja. Aku tatap pula Ike sambil menebak-nebak apa 
maunya artis cantik ini. Ike terus menatapku sambil sesekali dia menyibakkan 
rambutnya yang tergrai sebahu hingga bulu-bulu ketiaknya yang tampak lebat dan 
subur kelihatan dengan jelas. 
Tiba-tiba Ike mendekatiku dan menyilangkan kedua tangannya di atas bahuku. 
Semakin dag-dig-dug saja jantung ini. Bau tubuh Ike yang sangat wangi menyengat 
di telinga dan pikiranku. 
''Kamu mirip dia,'' katanya. 
 
Aku pegang tangan Ike yang melingkar dibahuku, aku cium lengannya dengan halus. 
Ike memejamkan mata, yang aku yakin tanda iya. Ike makin mendekat ke tubuhkan 
sampai akhirnya kedua tetek Ike yang memang tampak sangat montok waktu itu 
menyentuh dadaku. Tanpa pikir panjang aku coba cium bibir Ike yang sedikit 
terbuka dan Ike dengan antusias pula membalas ciumanku. Sambil terus gencar 
mencium bibir Ike aku peluk dia. Aku gesek-gesekkan dadaku hingga kekenyalan 
tetek Ike dapat aku rasakan. Ike tampak kian bernafsus, sesekali bibirnya 
melepaskan diri dari bibirku namun mencium seluruh wajahku hingga basah. 
Sesekali sambil tertawa Ike menggigit hidungku.  
 
Aku kian bernafsu mendapatkan serangan gencar dari artis cantik ini. Tanganku 
yang semula melingkar di pundak Ike, kini aku arahkan untuk mulai bergerilya di 
teteknya. Aku elus pelan-pelan tetek ike. Tanganku mencoba ke bawah untuk masuk 
ke BH-nya. Tapi tiba-tiba Ike menarik tanganku dan mendorong tubuhku. Aku 
terhempas di atas kursi.  
''Wah kenapa Ike ini, pasti dia marah melihat ulahku,'' batinku. 
Tidak jelas apa maksud Ike mendorong tubuhku. Yang saya lihat dia hanya 
menggeleng-gelengkan kepala.  
'Tanda menolakkah,'' batinku. 
 
Ike kembali menatapku tajam. Kali ini agak lama. Namun tanpa saya duga, tiba-tiba 
Ike sambil tersenyum melepas kaosnya yang sangat tipis dan seksi itu. Wow, 
mimpikah aku? Aku melihat dengan mata kepala sendiri artis cantik Ike Nurjanah 
tubuhnya hanya terbalut BH yang sangat tipis dan ketat. Ike tersenyum. Kemudian 
dia menyibakkan rambutnya ke belakang dan menguncitnya. Sekali lagi aku 
terkesima, melihat tetek Ike yang tampak montok karena ditekan BH yang ketat dan 
bulu ketiak Ike yang sangat lebat. Aku tak kuasa menaham birahi ini.  
 
Aku dekati dia, aku mencoba mencium ketiak Ike, hmmm, luar biasa artis cantik ini. 
Ketiaknya pun sewangi ini,  
''Apalagi...,'' batinku. 
Tapi Ike mendorongku sambil menggelengkan kepala. Aku hanya bisa diam dan 
merebah di kursi sambil menunggu apa yang akan dilakukan Ike sebentar lagi. 
sambil tersenyum Ike kemudian meremas-remas sendiri teteknya, ditekan-tekannya, 
sambil sesekali bibirnya mengggigit teteknya.  
''Ahhhh...'' teriak Ike.''Kamu bisa mengerti ini semua kan?'' tanyanya. 
Aku hanya mengangguk. Ketika aku mendekat, kembali Ike melarangku. Ike berdiri 
dan mengambil orange jus yang ada di kursi. Setelah diminum sedikit, sisanya 
ditumpahkan ke seluruh tubuhnya. Ike terus tersenyum kepadaku. Sementara 
penisku semakin tegang melihat kejadian ini.  
''Boleh aku mendekatimu Ik?'' tanyaku. 
''Hmmm, sini...,'' katanya. Kontan aku melocat dan akan memeluk dia, tiba-tiba Ike 
berkata ''Duduk saja..''. Aku pun menuruti perintahnya. 
 
Setelah menatapku Ike tiba-tiba melepas span pendeknya dan melemparkan 
penutup vagina setelah celana dalam itu ke atas kursi. Kini Ike mendekatiku dan 
kemudian dia memelukku sambil mencium seluruh tubuhku. Aku belum sempat 
terkesima melihat pemandangan yang sangat indah itu, Ike udah sangat buas 
menciumi aku. Aku balas ciumannya dengan melumat habis tetek Ike yang kenyal 
itu.  
''Aku lepas BH ya Ik,'' kataku. 
''Jangan...'' timpal Ike. 
 
Ike tampak bernafsu menciumi tubuhku. Sesekali dia membasahi wajah dan tubuhku 
dengan ludahnya terus dia menjilati lagi. Aku kian tak tahan mendapat serangan 
seperti ini dan tanganku mulai meremas-remas pantat Ike yang tidak kalah kenyal 
dengan teteknya. Aku elus-elus pantas Ike sambil pelan-pelan aku masukkan 
tanganku ke celana dalamnya. Ketika sudah menyentuh pantat Ike, dia diam saja. 
Aku alihkan remasan ku depan, tepatnya ke vagina Ike. Woh, jembut Ike lebat 
sekali, andaikan aku bisa melihat dan menilatinya... batinku.  
 
Tapi tiba-tiba Ike mencubit tanganku. Dia pasti tidak setuju dengan ulahku ini. Ike 
kembali mendorongku, tapi begitu aku jatuh terbaring di tempat kursi, dia 
menindihku. Dibukanya kaki lebar-lebar sambil berusaha melepas celana panjangku. 
Aku membantu Ike dengan melucuti sendiri pakaianku. Hingga akhirnya aku tinggal 
memakai celana dalam dan Ike pun tinggal memakai celana dalam dan BH. Jembut 
Ike yang lebat tampak sangat indah dengan celana dalamnya yang terpakai tidak 
dalam posisi yang benar itu, karena abis aku obrak-abrik dengan tanganku. Ike 
membuka kakiku lebar-lebar sambil kemudian dia melepas celana dalamku.  
''Apa maunya..'' batinku. 
 
Begitu penisku yang tegang menyembul keluar, dengan penuh nafas Ike 
mengulumnya dengan buas. Sementara tanganku hanya bisa memainkan payudara 
Ike.  
''Aduuuh, Ike. Jangan keras-keras,'' protesku 
Ike tidak mendengarkan. Bahkan dia terus melumat kontolku dengan buasnya. 
Akhirnya Ike pun melepaskan BH dan celana dalamnya. Aku terkesima melihat 
pemandangan ini. Ike tanpa selebar benang pun melekat di tubuhnya. Memeknya 
yang penuh jembut dan ketiaknya yang ditumbuhi rambut sangat lebat begitu 
memicu birahiku. Ike menjauh dari aku dan dia duduk di bahwa kursi. Sambil 
membuka kedua selangkangannnya Ike memanggilku dan dia menuding kontolku 
supaya dimasukkan ke memeknya. 
 
Aku pun mengiyakan semua permintaan Ike dan terjadilah perbuatan maksiat itu. 
Aku terus menekan memek Ike, menari, menekan, menarik, menekan,sampai 
akhirnya Ike dan aku menjerit keras. Cairan segar muncrat dan sebagian mengenai 
wajahku dan Ike, dan kami pun saling berpelukan.  
''Maafkan aku,'' kataku. 
''it's oke. kapan-kapan aku ingin yang lebih dari ini,'' tutur Ike. 
 
Pukul 21.00 aku pulang dengan wajah gontai namun penuh senyum. Rejeki atau 
setan apa yang mampir ke tubuhku hingga Ike Nurjanah memmintaku berbuat 
seperi itu, entahlah. Yang jelas kini setelah kejadian itu Ike kian sulit aku hubungi. 
Bahkan ketika bertemu di satu acara melihatku Ike seperti tidak pernah terjadiapa-
  apa. Ike kembali memperlakukan aku seperti halnya wartawan lainnya.

Tidak ada komentar: