Sabtu, 30 Agustus 2008

GARA-GARA DOSEN KILLER

Saya tinggal di sebuah kota kecil dekat Jakarta. Waktu itu tahun 1984 dan saya baru 
kuliah tingkat I. Hari itu saya kesel berat sama dosen, yang selain killer juga asli 
egois. Saya yang sehari-hari terkenal sebagai mahasiswa yang disenangi oleh para 
dosen-meskipun bukan terbaik, dibikin malu hampir seluruh kampus. Dia bilang 
bahwa saya adalah orang yang tidak bisa dipercaya, karena diberi tugas tidak 
melapor. Padahal saya sudah menunggu di depan kantornya lebih dari 2 jam untuk 
memberika n laporan, dia malah tidur di ruang dosen! Saya kecewa berat, lalu pulang 
ke asrama.  
 
Sepanjang siang saya tidak bisa istirahat memikirkan si killer. Sorenya saya pergi ke 
kota B untuk cari hiburan. Saya tidak tahu hiburan apa, yang penting saya berada 
jauh dari asrama. Untuk sampai ke kota B orang harus naik ojek, karena angkutan 
umum sangat jarang. Jadi saya bisa pastikan teman-teman tidak akan ada yang 
mergoki kalau saya lagi senewen begini. Saya lalu nonton film. Sesuatu yang jarang 
saya lakukan. Saya tidak ingat judulnya apa, tapi yang saya ingat film itu agak hot, 
banyak adegan ranjangnya.  
 
Sambil nonton saya juga beranikan diri minum bir. Ini pertama kali dalam hidup 
saya, karena saya tinggal dalam lingkungan yang ketat. Mungkin karena saya serius 
nonton film, atau mungkin juga pengaruh bir, perlahan-lahan beban akibat si killer 
hilang juga. Yang tinggal adalah perasaan birahi karena pengaruh film. Abis nonton, 
saya terpaku di depan bioskop. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 21.00. Masih 
sore, saya fikir. Lagipula saya malas pulang ke kampus, masih kesal dengan 
suasananya. Tapi mau kemana? Akhirnya saya mengayunkan langkah juga ke arah 
stasiun kereta api, dekat jalan tempat para ojek menunggu.  
 
Sampai di sana suasananya sepi. Saya duduk di bangku panjang tempat para 
penumpang menunggu kereta api. Saya menyalakan rokok. Menghisapnya dalam-
dalam. "Sendirian aja mas?" tiba-tiba ada suara menyapa. Saya terkejut dari 
lamunan dan menoleh ke kiri. Seorang gadis cantik, sekitar 10 tahun lebih tua dari 
saya, berpakaian seronok berdiri memandang saya dengan senyum menggoda. Di 
tangan kirinya memegang sebatang rokok. Wah, ini pasti WTS pikirku. Saya 
memang sering dengar bahwa di dekat stasiun ini banyak WTS berkeliaran. Tempat 
operasi mereka biasanya di gerbong kereta barang yang lagi langsir. "Oh.. eh.. ya.." 
jawab saya gugup sambil menengok ke arah gerbong kereta yang di parkir di 
samping stasiun. Agak gelap dan banyak bayangan berkelebat di sana. Sesekali 
terdengar suara perempuan cekikikan. "Boleh saya temani..?" tanyanya. "Silakan... 
silakan.." kata saya sambil menggeser tempat duduk.  
 
Saya jadi deg-degan. Meskipun saya terhitung tidak canggung sama teman- teman 
cewek, tapi untuk seseorang yang lebih agresif kayak gini saya jadi panas dingin 
rasanya. "Pulangnya kemana?" tanyanya sambil meletakkan pantatnya yang 
kencang dan hanya ditutup oleh rok hitam pendek. Pahanya langsung terlihat ketika 
ia menyilangkan kakinya. Mulus dan bersih. Wangi parfum murah menusuk hidung 
saya. "Ee.. ke kampus." jawab saya polos. Saya lihat bibirnya yang berlipstik tebal 
tersenyum nakal menghembuskan asap rokok ke arah saya. Gila, berani betul ini 
cewek. Matanya memperhatikan saya dari atas ke bawah. Rambutnya panjang 
sebahu dan ujungnya menutupi ketiaknya yang tidak tertutup baju. Ia memakai baju 
hitam tak berlengan dengan belahan sangat rendah. Terlihat belahan putih dadanya 
yang menyembul dibalik bajunya. "Ooo.. mahasiswa yaa?" tanyanya cuek. "Payah.." 
"Kenapa?" saya balik bertanya. "Duitnya tipis" jawabnya sambil ketawa. "Tapi 'kan 
otaknya encer" kilah saya nggak mau kalah. "Percuma.  
 
Lagian nggak tahan lama" katanya sambil membuang puntung rokok ke arah rel 
kereta api. "Apanya?" "Goyangnya" jawabnya sambil memencet hidung saya. Gila. 
Pikiran saya ternyata benar. Dia termasuk salah satu "penghuni" gerbong nganggur 
itu. "Emangnya kenapa?" saya jadi tertarik untuk menggoda. "Ya nggak enak donk. 
Udah dibayar murah, nggak puas lagi" Saya hampir kehabisan jawaban. Terus 
terang saya nggak pengalaman dalam soal beginian. Saya beranikan diri mengusap 
tangan kirinya yang putih mulus. Ia cuek saja. Benda dibalik celana saya kontan 
bergerak naik. "Kan bisa belajar....biar bisa lebih lama" kata saya. Ketemu juga. 
"Enak saja.. emangnya kuliah" katanya. Bibirnya mencibir manja.  
 
Lalu ia menepis tangan kanan saya yang asik mengelus tangan kirinya. "Kan bisa 
jadi langganan" kata saya sambil pindah mengelus bahunya. "Biasanya berapa satu 
rit?" Benda saya makin tegang. "Tergantung. Kalau biasa-biasa aja sih cuma dua 
puluh ribu" Ia menepis tangan saya dari bahunya. "Mahal amat... Eh, yang biasa-
biasa itu gimana?" "Yaa..begitu deh. Celentang, tancep, goyang, selesai" katanya 
cekikikan. Rupanya ia ketemu orang yang baru tahu soal begituan. "Kalau yang 
nggak biasa?" tanyaku ingin tahu. "Emangnya situ belon tau ya? Payah amat sih. 
Enak lho,.... diginiin nih" katanya sambil memasukkan jari telunjuk kanannya ke 
dalam mulutnya sendiri, lalu dimaju mundurkan. "Hah, diisep? Astaga.." Saya 
terkejut. "Apa situ nggak muntah?" "Waktu pertama sih jijik juga.  
 
Abis bayarnya mahal, lama-kelamaan suka juga. Enak malah. Kalau yang masih 
muda sih, biasanya saya telan. Obat amet muda..hi..hi.." Saya bergidik. "Kayak 
saya?" "Kalau situ mau. Tapi bayarnya dua kali lipat" "Nggak ah. Kalau gratis sih 
mau. Kan promosi" "Huh! Maunya!" katanya. Iapun berdiri dan meninggalkan saya. 
"Mau kemana?" tanya saya sambil berusaha menangkap lengannya. "Cari langganan. 
Situ mau nggak?" "Ogah. Kalau gratis sih mau" "Gini saja deh," katanya mengalah 
"Situ bayar biasa, tapi saya kasih yang istimewa. Itung-itung promosi.. gimana?" 
Kini ganti tangannya menarik-narik tanganku.  
 
Dengan setengah malas saya bangun dari duduk mengikuti tarikannya. "Ee.. ee.. 
ntar.. " "Ntar apanya?" tanyanya sambil tetap menarik tangan saya. Akhirnya saya 
berjalan juga mengikuti langkahnya. Batin saya berkecamuk. Saya belum siap untuk 
ini. Tapi gairah dalam diri saya sudah naik sejak nonton tadi. Benda kecil dalam 
celana saya pun sudah tegang. Saya mengikuti langkahnya melewati gerbong-
gerbong kereta barang. Dalam remang-reman saya melihat dalam gerbong-gerbong 
itu diterangi lilin. Banyak perempuan dengan pakaian yang mirip dengan cewek ini 
sedang duduk-duduk. Ada yang sudah ditemani laki-laki. Sesekali terdengar tawa 
mereka. "Hei Marni, hebat lu. Waya gini udah dapet!" Seorang dari mereka 
meneriaki cewek yang bersama saya. Rupanya cewek ini namanya Marni. Ia cuek 
saja dan terus menarik tanganku berjalan ke ujung gerbong. "Kita mau kemana?" 
tanya saya. Suara saya bergetar. Gugup. "Tenang aja. Kita pilih tempat yang paling 
sip." Tiba di gerbong terakhir ia berhenti. Ia naik ke pintu gerbong yang memang 
tidak berpintu. Karena tinggi ia berpegang ke pundak saya. Saya mencoba 
membantu dengan mendorong pantatnya. Empuk sekali.  

Tiba di dalam ia menggeser karton bekas untuk menutup pintu kiri dan kanan 
gerbong. Dalam gerbong hanya ada sebatang lilin, tapi cahayanya cukup untuk 
menerangi seluruh ruangan gerbong. Di sudut lantai gerbong terhampar satu tikar 
lampit lusuh. Nampaknya sudah sering dipakai untuk operasi. Tanpa canggung Marni 
mulai melepas pakaiannya satu persatu. Pertama bajunya. Lalu roknya. Terus 
behanya yang berwarna hitam. Begitu behanya terlepas, payudaranya langsung 
menyembul dan bergoyang indah mengikuti gerakan badannya. Putih, mulus dan 
kencang. Putingnya terlihat mungil dan indah. Tanpa menghiraukan saya yang masih 
bengong ia pun membuka celana dalamnya yang juga berwarna hitam, dan 
dilemparkannya ke tumpukan pakaiannya. Saya terpesona. Kaget. Tidak mengira 
sedemikian cepat prosesnya. Di hadapan saya kini ada sesosok tubuh wanita cantik 
dan putih telanjang bulat, tanpa sehelai benangpun menutupinya. Begitu indahnya. 
Pandangan saya langsung ke selangkangannya yang berbentuk segitiga dengan 
rambutnya yang lebat. Saya menelan ludah berkali-kali. Ngiler. "Koq bengong? Mau 
dibukain?" tanyanya membuyarkan keterpesonaanku. "Eh sorry.." kata saya sambil 
mempreteli pakaian saya satu per satu.  
 
Saking terburu-buru saya hampir terjatuh. Ia cekikikan. Saya buka semuanya, 
tinggal celana dalam saya yang sudah mulai basah di bagian depan karena menahan 
napsu dari tadi. Batang kemaluan saya yang sudah tegak menonjol ke depan. Saya 
ragu. "Ayo dong, semuanya" katanya sambil membungkuk, mencengkeram dan 
memelorotkan celana dalamku. Penis saya yang tadi tertahan jadi melonjak keluar 
begitu celana dalam saya turun. "Waw..., gede juga" serunya, sambil mencengkeram 
penis saya dengan tangan kanannya. Saya terkejut. Berani betul orang ini. Sudah 
nggak ada malunya lagi. "Sini" katanya sambil membimbing duduk menyandar ke 
dinding gerbong, sambil tetap memegang penis saya yang tegang. Permukaan tikar 
lusuh menggesek kulit pantatku. Ia berlutuh dihadapanku dan membuka kedua 
pahaku. Penisku yang tegang digenggamnya dengan kedua tangannya yang halus 
dan mengocoknya pelan.  
 
Tampaknya ia memang profesional. Lalu sambil tersenyum kepadaku ia 
menundukkan kepalanya, membuka mulutnya dan menjulurkan lidahnya ke arah 
penisku... "Ahhh..." hanya itu yang terucap ketika ia mulai menjilat kemaluanku dari 
kantong pelir sampai ke helmnya. Ia berhenti sejenak dan tersenyum kepadaku. Lalu 
menjilat lagi dengan lancar, turun naik searah batang kemaluanku, kiri dan kanan. 
Saya hampir tidak percaya melihatnya. Rasa geli dan nikmat bercampur jadi satu. 
Cairan bening yang keluar dari batangku sudah bercampur dengan ludahnya. Ia lalu 
memasukkan batang kemaluanku perlahan-lahan ke dalam mulutnya. "Ahhh... 
nikmaaa.....tth" lirihku ketika ia mulai menyedot-nyedot batangku, mulutnya mundur 
maju memasukkan dan mengeluarkan batang itu tanpa mengenai giginya, tanpa 
rasa geli sedikitpun, sambil tangannya menekan selangkanganku. Gila! Begini nikmat 
rupanya rasa orang bersetubuh.  
 
Tangankupun sudah tidak tinggal diam. Kuusap bahunya, kepalanya, payudaranya 
kuremas-remas, putingnya kupelintir. Kala ia menyedot batangku kuat, kupegang 
kepalanya... "ah..ahh..aaaaahhh.. enak... ahh.." Ia tak bersuara tapi terus saja 
menyedot-nyedot batangku. Lidahnya Hanya sesekali suaranya bergumam 
"mmmfh...mmmf..." Terkadang ia menjilati kepala batangku. Lidahnya berputari 
mengitari helm penisku yang telah mengkilat itu. Lalu memonyongkan bibirnya, 
mengecup dan menyedot-nyedotnya dengan nafsu. Lalu memasukkan dan 
mengeluarkannya kembali. Hebat. Keringat telah mengucur dari badanku. Lama-
kelamaan saya tidak kuat. Ia makin cepat menyedot-nyedot batang kemaluanku 

dengan sangat nafsu. Kali ini ia memutar-mutar kepalanya. Kemaluanku terasa 
dipelintir dan dipijat- pijat. Nikmat sekali. "Ahh...ahh.. terus.. . enak... aduh... 
nikmaat... ahhh ... aaaaaah.....sshh" Kakiku kelojotan dan kepalaku menggeleng 
kiri-kanan. Kepalanya kucengkeram sambil mengikutinya mengulum-ngulum 
batangku.  
 
Tidak ada tanda-tanda ia akan berhenti, malah tambah cepat. Edan! Apa mungkin ia 
aku akan ejakulasi di mulutnya? Kayaknya sih begitu. "Ah.. ahhh.. Cret! Creett! 
Crott! Aaaaaaaaahh...". Kuangkat pantatku sambil menekan kepalanya. 
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaw... Cret! Cret! Crott!" Ya ampun! Batangku memuntahkan air 
mani beberapa kali dalam mulutnya. Ia menyedot dengan napsu dan berkali-kali 
menelannya tanpa rasa jijik sedikitpun. Bahkan yang berceceran di batangku pun 
dijilatinya hingga licin, dan ditelannya. "Hmm.. mmmm..." Gumaman itu saja yang 
keluar dari mulutnya. Saya terhempas lunglai dan ia terus menjilati kemaluanku 
seperti tak pernah puas. Ia mengangkat mukanya dan tersenyum kearahku sambil 
menjilati air mani yang masih tersisa di bibirnya. Gila ini orang! "Enak kan?!" 
Tanyanya. Saya tidak menjawab, tapi hanya mengacungkan jempolku. Ia lalu 
menarik tanganku, menyuruhku berdiri. Saya berdiri dan ganti ia duduk bersandar. 
Tak berkedip aku menatapnya. Tubuhnya begitu putih, indah, padat dan 
menggairahkan. Payudaranya montok menggantung dan menantang dengan putting 
yang mungil ditengah lingkaran kecoklatan. "Gantian" katanya. Hah?! "Apa?" 
tanyaku tak percaya. "Gantian dong. Sekarang situ yang kenyot nonok saya" 
katanya. Gila! Ini persetubuhanku yang pertama, tapi sudah disuruh menghisap 
vagina perempuan. Bagaimana caranya?  
 
Supaya ia tidak kecewa saya lalu berlutut diantara kakinya. Kuusap kedua pahanya 
yang putih mulus dengan kedua tangan. Tak percaya rasanya malam ini saya benar-
benar menyetubuhi wanita. Sebelumnya saya hanya menyaksikan tubuh wanita 
lewat film-film BF. Ia tertawa melihat kemaluan saya yang mengecil. Saya lalu 
mendekati kemaluannya. Saya lihat jembutnya begitu tebal dan indah menghiasi 
barangnya. Tapi kemudian ia memegang kepala saya dan menariknya ke arah 
dadanya. "Ini dulu" katanya. Saya tidak menolak. Saya meremas kedua teteknya 
yang kenyal dan dan kencang itu dengan lembut dan mulai mengulum pentil 
kanannya. "Ahhh... " lirihnya lembut. Saya memutar lidah menggelitik putting itu. Ia 
menggelinjang kegelian. Lalu kusedot-sedot seperti bayi menyusu. "Ahh... ahhh.. 
terus ...yang kiri.." Akupun pindah, menyedot pentil sebelah kiri, sambil terus 
meremas. Tangan kanannya memegang kepalaku sedang yang kiri menjamah 
batangku, mengurutnya dengan gemas. Kontan batangku yang tadinya kecil mulai 
mengeras lagi. "Asyiiik... keras lagi... ah... ah" lirihnya girang sambil menikmati 
hisapanku di buah dadanya. Ia semakin semangat mengurut penisku. Cairan mulai 
keluar lagi dari ujung helmnya. Aku kemudian berganti- ganti kiri dan kanan 
menghis! ap teteknya. Ia menikmatinya dan matanya terpejam saking nikmatnya. 
"Turun" katanya pendek.  
 
Sayapun menurunkan kepala saya ke arah perut dan terus kebawah. Tangannya 
terlepas dari batang kemaluanku. Tangan saya mengelus pinggangnya kiri kanan. 
Kini saya berada tepat di atas kemaluannya yang berambut tebal itu. Bau aneh saya 
rasakan tapi saya tidak perduli. Nafsu saya sudah naik lagi. Ini kesempatanku untuk 
tahu bagaimana rasanya menghisap kemaluan perempuan. Saya menyibak rambut 
hitam lebat yang menutupi vaginanya. Karena gelap, saya tidak bisa melihat dengan 
jelas. Karena itu saya coba merabanya. "Ooooh..." ia mengerang lembut. Terasa ada 
cairan basah di bawah belahan vaginanya. Saya mengusap-usap bibir labianya. 
Pinggulnya bergoyang menahan geli. "Jilat dong... ooohh.." pintanya lirih.  
Saya mulai menyentuh bibir vaginanya yang basah itu. Terasa lembut, asin dan 
kenyal. "Nahhh... gitu... hhh... aw... geli... enak... oooohh..." rintihnya. Kini bibirku 
yang mengecup, mengulum dan menyedotnya seperti mencium dan memagut bibir 
wanita. Ia menggelinjang, menggoyang pantatnya, kegelian. "Terusssh... ahhh... 
ahhh... ahh" Tangannya turun membantu menarik selangkangannya, sehingga bibir 
vaginanya ikut terjewer. "Atasnya... atasnya... hisaaap... ohhh" Aku tidak tahu yang 
mana yang atasnya. Yang aku tahu adalah ujung atas bibir kemaluannya. Kecil, 
sebesar biji kacang. Mungkin ini yang disebut kelentit. Kumainkan dengan telunjuk, 
kuhisap dan kukenyot-kenyot. Ternyata benar, reaksinya luar biasa. "Aaawww... 
ahh.. iya.. ituu... ahh.. teruuuuss... ssstt... enaaaak..." rintihnya keras sambil 
menggoyang pinggulnya. Ia lalu menaikkan kakinya dan kedua belakang lututnya 
mampir dipundakku.  
 
Aku semakin hot. Lalu silih berganti, kujilat vaginanya dan kuhisap kelentitnya. Rasa 
asin ! cairan yang keluar dari vaginanya itu tidak kuperdulikan lagi bahkan kadang 
kutelan karena napsuku yang membara. Kemaluanku sudah tegang lagi, siap untuk 
babak berikutnya. Tiba-tiba ia menurunkan kakinya dan menarik kepalaku dengan 
tangannya. "Nggak tahan..." katanya. Lalu bangkit berdiri dan menyuruhku duduk 
menyandar seperti tadi. Aku menurut saja. Batang penisku kelihatan berdiri tegak 
dan garang seperti menara. Ia lalu duduk menghadapku mengangkangi pinggulku. 
Dicengkeramnya penisku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya 
memegang bahu kiriku. Lalu digosok-gosok ujung penisku itu di permukaan 
kemaluannya dan kelentitnya. Aku terangsang hebat dan meremas kedua 
payudaranya yang bergelayut di depan mukaku. Kuhisap dan kukenyot pentilnya 
berganti-ganti. Dengan penuh napsu ia mulai menurunkan badannya dan 
membimbing batang penisku masuk ke dalam vaginanya. "Blesss... " Penisku 
langsung amblas.  
 
Aku merasakan lubang kemaluannya hangat dan berdenyut hebat. Nikmat sekali. 
Antara geli dan hangat. Ia mengangkat pantatnya perlahan lalu menurunkannya lagi. 
Akhirnya ia seperti main kuda-kudaan, mengangkat dan menurunkan pantatnya 
dengan cepat, hin! gga selangkangannya beradu dengan selangkanganku dan 
mengeluarkan suara keras. "Plok ...plok... plak... plak..." Mulutnya merintih-rintih 
dan mencari mulutku. Segera kusambut dengan pagutan penuh napsu. Lidahnya 
meliuk- liuk ke dalam mulutku. Kadang-kadang bibirku dikenyotnya. Napsu kami 
sudah begitu membara dan hanya itu cara melampiaskannya. Aku merasakan 
penisku seperti diurut-urut. Apalagi ketika pinggulnya melakukan gerakan memutar.  
 
Ya ampun nikmatnya. Terasa dipilin-pilin. Tanganku pun jadi liar, meremas-remas 
pantatnya yang kencang dan padat itu. Kadang-kadang mengusap badan 
belakangnya. Ia memegang kedua payudaranya dan memasukkan mukaku 
diantaranya. Hangat dan kenyal. Aku gesek-gesekkan kedua pipiku di antara dua 
bukit daging itu. Ia pun semakin napsu menggoyang pantatnya. Kepalanya sering 
terkulai kebelakang saking nikmatnya. "Ahh.. ahh.. ooo... aww... kontolnya... 
besaar... enaakk..." Tiba-tiba ia berhenti. Tanpa mencabut kemaluanku, badannya 
berputar dan kini membelakangiku. Dengan bertumpu ke kedua lututku ia 
menggenjot lagi pantatnya turun naik. Mulutnya merintih lagi.. "Ahh... ahh... 
enaak... nikmaat... aww... terussshh..." Gila. Kini kemaluanku terasa sekali 
menggesek dinding vaginanya. Rasanya menggerinjal memijit-mijit kulit atas batang 
penisku. Pemandangan didepankupun demikian indahnya.  
 
Pantatnya yang putih dan montok menghadap wajahku. Ditengahnya lubang dubur 
yang kehitam-hitaman dan dibawahnya lubang kemaluannya sedang asik 
menghisap-hisap batang penisku. Aku meremas-remas pantat montok itu dan kedua 
ibu jariku menarik kedua bibir pantatnya didekat vaginanya. Kelihatan penisku 
sedang mengebor lubangnya maju mundur dengan gagah dan garang. Batangnya 
licin dan mengkilat karena dibasahi cairan kami yang sudah bercampur jadi satu. 
Nikmatnya sulit dilukiskan kata-kata. Lalu ia menegakkan badannya dan melipat 
kakinya. Posisinya jadi berlutut membelaka! ngiku. Dengan santai ia merebahkan 
badannya ke belakang, ke arah dadaku. Dengan bertumpu kedua tangannya ia 
mengayuh lagi. "Ahh... nikmatnyaa... uhhh... kontolnya.... besarr... hh.... enaaak..." 
Batang kemaluanku kini keluar masuk dengan ujung helmnya menelusuri dinding 
depan lobang vaginanya. Tak terkatakan betapa geli dan enak bersetubuh seperti ini. 
Pantatnya kini beradu dengan selangkanganku dan menimbulkan suara keplok, 
menambah semangatku untuk menggenjotnya.. Cewek ini benar-benar profesional 
dan tahu banyak cara bersetubuh.  
 
Tanganku meraih buah dadanya dari bawah ketiaknya. Kuremas-remas dengan 
gemas dan penuh napsu. Ia memalingkan kepalanya keaarah wajahku dengan bibir 
terbuka. Segera kusambut dengan bibirku. Kami berpagutan sekenanya karena 
kepalanya bergoyang-goyang mengikuti irama pinggulnya. Benar-benar nikmat. 
Beberapa saat kemudian dia berhenti lagi. Tepat saya hampir mencapai klimaks. Ia 
seperti tahu bahwa aku mau keluar. Mau apa lagi ni orang , fikirku. Ternyata ia 
berdiri dengan cepat dan meninggalkan batang kemaluanku yang bergoyang seperti 
bandulan. Tegak dan keras, tapi mengkilat dan basah oleh cairan. Ia menarik 
tanganku sebagai isyarat agar bangun. Aku pun berdiri mengikuti tarikannya. Lalu ia 
bersandar di dinding gerbong dan mengangkat kaki kirinya dengan tangan kirinya, 
sedangkan tangan kanannya menarik bahuku. "Ayo masukin...hhh ..." perintahnya 
pendek. Diamput! Ini benar-benar malam istimewa.  
 
Baru pertama kali bersetubuh sudah diajari bermacam-macam gaya untuk mendapat 
kenikmatan. Akupun merendahkan tubuhku agar burungku bisa masuk dari bawah. 
Kaki kirinya melingkar ke pinggulku dibantu oleh tangan kirinya. Tangan kanannya 
melingkar di bahuku dan mulutnya mencari-cari bibirku. Dengan menuntun batangku 
dengan tangan kananku kutempelkan ujung helm penisku itu di depan liang 
vaginanya. "Bless... clep... clep..." Dalam sekejap batang penisku langsung 
menancap sarungnya. "Aaaawww...." jeritnya merintih, merasakan kenikmatan yang 
dialaminya. Kini batangku merasakan seluruh dinding vaginanya seperti memijit-
mijit. Geli dan nikmat. Sedangkan bulu-bulu kemaluannya menggelitik 
selangkanganku. Aku tidak perduli. Aku merasa dorongan dalam diriku seperti tidak 
tertahan. Aku mungkin akan orgasme.  
 
Aku memagut bibirnya dengan kuat. Kembali lidahnya meliuk-liuk liar dalam 
mulutku. Ketika lidahnya ditarik, ganti lidahku yang menjelajah dalam mulutnya. 
Begitu terus. Kedua tanganku meraih pantatnya yang kencang dan menekannya 
kearah selangkanganku. Lalu kugenjot dengan irama yang teratur. Matanya 
terpejam, tak kuasa menahan rasa enak yang datang dari vaginanya. "Mmmmfff... 
mmmfff..." Ia merintih tertahan, karena mulutnya tersumpal lidah dan bibirku. Ini 
tidak berlangsung lama karena kaki kanannya mulai bergetar. Akupun merasa 
lututku lelah. Gejolak menuju puncak kenikmatan jadi tertahan karena pegal. 
Perlahan-lahan kucabut batangku dan iapun menurunkan kaki kirinya.  
 
Mulutnya masih memagut bibirku, seperti takut kehilangan. Akupun tak mau 
melepaskannya dan memeluknya erat-erat. Mesra sekali rasanya. Batang 
kemaluanku tertekan diantara perutku dan perutnya. Ia lalu menggoyang badannya 
kiri dan kanan, menggesek batang penisku keperutnya. Amboi! Ia lalu melepaskan 
ciumannya dan merebahkan badannya celentang dengan kaki terbuka lebar. 
Vaginanya jadi terlihat jelas dibawah rimba hitamnya. "Ayoh.. hhh... terusin... " 
katanya. Ia pun nampaknya sudah hampir mencapai klimaks. Tanpa menunggu 
perintah dua kali akupun menindihnya. This is the real ecstasy, fikirku. Dengan 
memagut bibirnya dan mendekap erat tubuhnya aku berusaha memasukkan penisku 
yang masih tegang itu ke dalam vaginanya. Tanpa dituntun, kali ini batang 
kemaluanku nampaknya sudah hafal menuju tujuannya sendiri. "Blesss.........." 
Amblas lagi, tanpa rintangan sedikitpun. "Ahhh.... " rintihnya lepas. Kedua kakinya 
melingkar di belakang pinggulku. Aku berhenti sejenak untuk melepskan pegal, tapi 
ia menggoyang-goyang pinggulnya, tanda ingin digenjot. Akupun menggenjotnya 
turun naik. Makin lama makin cepat.  
 
Ciuman dibibirkupun makin menggila. Aku jadi ikut memutar pinggulku mengiringi 
putaran pinggulnya. Suara yang timbul pun ramai. "Plak.. plok... plak... plok..." ! 
Kali ini aku tidak tahan lagi. Nampaknya iapun begitu. "Aaaaaw.... ah! ah! ah!" Tiba-
tiba ia mengejang dan mendekapku kuat- kuat. Tangannya mencengkeram 
rambutku. Bibirnya memagutku liar. Kedua kakinya yang melingkar di pinggulku 
menekan kuat. Vaginanya seprti menyedot batangku dengan kuat. Seiring dengan 
itu Cret! Cret! Cret! Cret! Kurasakan batangku tersiram cairan hangat didalam 
vaginanya. "Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh....!" jeritnya. Aku 
membalasnya dengan menghunjam penisku sedalam-dalamnya. Aku orgasme! Cret! 
Cret! Cret! Nikmat! "Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh...."  
 
Kutembakkan seluruh air maniku ke dalam vaginanya. Aku terhempas dalam lautan 
kenikmatan yang tiada duanya. Aku terkapar dengan kepuasan yang tidak pernah 
kubayangkan sebelumnya. Diatas tubuh molek dan montok tak tertutup selembar 
benangpun. Aku hampir tertidur di atas tubuh bugilnya jika ia tidak 
membangunkanku dengan sebuah ciuman mesra di pipiku. "Puas?!" tanyanya 
berbisik. "He-eh" hanya itu jawabku. "Mau diterusin?!" tanyanya menantang, sambil 
menggoyang pinggulnya kedepan. Penisku masih tertanam dalam vaginanya, tapi 
sudah mulai mengkerut. "Ampun deh!" jawabku. Ia tertawa. "Kalo gitu bangun 
dong" pintanya. "Ntar dulu ah, masih enak nih" kataku manja. Ia tak berkata-kata 
lagi. Hanya tangannya mengelus rambutku, mesra. Sesekali ia mencium pipiku. 
Kemudian kami berpakaian.  
Saya menyelipkan uang lima puluh ribu, bukan duapuluh ribu seperti yang 
dimintanya. Ia bertanya kenapa, saya jawab bayaran itu memang pantas untuk 
layanan yang telah diberikan. Ia berterima kasih sambil berkata bahwa saya tidak 
perlu sedermawan itu, karena ia sendiri mencapai kepuasan yang tidak pernah ia 
dapatkan sebelumnya. Kebanyakan pelanggannya langsung pergi setelah klimaks, 
tanpa memperdulikannya. Yang penting dibayar, pikir mereka. Ia bertanya apakah 
saya mau pulang, saya jawab ya. Ia lalu minta diantar dulu ke tepi jalan untuk cari 
kendaraan umum. Ia juga ingin pulang. Saya tanya kenapa tidak cari langganan lagi.  
 
Dia bilang sudah puas, untuk apa lagi. Saya tanya apakah minggu depan ia ada 
disini, ia jawab ya dan ia akan tunggu di tempat yang sama, jika saya mau datang. 
Sebelum keluar gerbong ia memeluk dan menciumku, lama sekali. Seperti tidak mau 
berpisah denganku. Minggu depannya saya datang lagi kesitu, dan menunggu di 
bangku stasiun. Lama saya menunggunya, tetapi ia tidak muncul. Saya tanyakan 
kepada teman-temannya kemana dia pergi, kata mereka ia sudah tidak "jualan" lagi 
sejak malam bersama saya itu.  
 
Saya tanya apakah ada yang tahu rumahnya, mereka bilang dia sudah pindah entah 
kemana. Mereka menggoda agar salah satu dari mereka dijadikan pengganti, tapi 
saya tidak mau. Sejak itu saya tidak pernah menemuinya lagi sampai saya kawin 
dan berkeluarga. Terima kasih Marni... Kau telah memberikan kenikmatan sekaligus  
pelajaran yang pertama buatku. …

Tidak ada komentar: