Sabtu, 30 Agustus 2008

Oh Yarmi, Pembantuku

Kira-kira empat bulan lalu, aku pindah dari rumah kontrakanku ke rumah yang aku 
beli. Rumah yang baru ini hanya beda dua blok dari rumah kontrakanku. Selain 
rumah aku pun mampu membeli sebuah apartemen yang juga masih di lingkungan 
aku tinggal, dari rumahku sekarang jaraknya 3 km. Selama aku tinggal di rumah 
kontrakan, aku mengenal seorang pembantu rumah tangga, sebut saja Yarmi. Dia 
juga pelayan di toko milik majikannya, jadi setiap aku atau istriku belanja, Yarmi-lah 
yang melayani kami. Dia seorang gadis desa, kulit tubuhnya hitam manis namun 
bodinya seksi untuk ukuran seorang pembantu rumah tangga di daerah kami tinggal, 
jadi dia sering digoda oleh para supir dan pembantu laki-laki, tapi aku yang bisa 
mencicipi kehangatan tubuhnya. Inilah yang kualami dari 3 bulan lalu sampai saat 
  ini.
Suatu hari ketika aku mau ambil laundry di rumah majikan Yarmi dan kebetulan dia 
sendiri yang melayaniku. 
"Yarmi, bisa tolong saya cariin pembantu..." 
"Untuk di rumah Bapak...?" 
"Untuk di apartemen saya, nanti saya gaji 1 juta." 
"Wah gede tuh Pak, yach nanti Yarmi cariin... kabarnya minggu depan ya Pak." 
"Ok deh, makasih yah ini uang untuk kamu, jasa cariin pembantu..." 
  "Wah.. banyak amat Pak, makasih deh.."
Kutinggal Yarmi setelah kuberi 500 ribu untuk mencarikan pembantu untuk 
apartemenku, aku sangat perlu pembantu karena banyak tamu dan client-ku yang 
sering datang ke apartemenku dan aku juga tidak pernah memberitahukan 
  apartemenku pada istriku sendiri, jadi sering kewalahan melayani tamu-tamuku.
Dua hari kemudian, mobilku dicegat Yarmi ketika melintas di depan rumah 
majikannya. 
"Malam Pak..." 
"Gimana Yar, sudah dapat apa belum temen kamu?" 
"Pak, saya aja deh.. habis gajinya lumayan untuk kirim-kirim ke kampung." 
"Loh, nanti Ibu Ina, marah kalau kamu ikut saya." 
"Nggak.. apa-apa deh Pak, nanti saya yang bilang sama Ibu." 
"Ya, sudah kalau ini keputusanmu, besok pagi kamu saya jemput di ujung jalan sini 
lalu kita ke apartemen." 
  "Ok... Pak."
Keesokan pagi kujemput Yarmi di ujung jalan dan kuantarkan ke apartemenku. 
Begitu sampai Yarmi terlihat bingung karena istriku tidak mengetahui atas 
keberadaan apartemenku. 
"Tugas saya apa Pak...?" 
"Kamu hanya jaga apartemen ini, ini kunci kamu pegang satu, saya satu dan ini 
uang, kamu belanja dan masak yang enak untuk lusa karena temen-temen saya 
mau main ke sini." 
"Baik Pak..." 
 
Dengan perasaan agak tenang kutinggalkan Yarmi, aku senang karena kalau ada 
tamu aku tidak akan capai lagi karena sudah ada Yarmi yang membantuku di 
  apartemen.
Keesokannya sepulang kantor, aku mampir ke apartemen untuk mengecek persiapan 
untuk acara besok, tapi aku jadi agak cemas ketika pintu apartemen kuketuk 
berkali-kali tidak ada jawaban dari dalam. Pikiranku khawatir atas diri Yarmi kalau 
ada apa-apa, tapi ketika kubuka pintu dan aku masuk ke dalam apartemenku 
terdengar suara dari kamar mandiku yang pintunya terbuka sedikit. Kuintip dari sela 
pintu kamar mandi dan terlihatlah dengan jelas pemandangan yang membuat diriku 
terangsang. Yarmi sedang mengguyur badannya yang hitam manis di bawah shower, 
satu tangannya mengusap payudaranya dengan busa sabun sedangkan satu kakinya 
diangkat ke closet dimana tangan satunya sedang membersihkan selangkangannya 
  dengan sabun.
Pemandangan yang luar biasa indah membuat nafsu birahiku meningkat dan kuintip 
lagi, kali ini Yarmi menghadap ke arah pintu dimana tangannya sedang meremas-
remas payudaranya yang ranum terbungkus kulit sawo matang dan putingnya 
sesekali dipijatnya, sedangkan bulu-bulu halus menutupi liang vaginanya diusap oleh 
tangannya yang lain, hal ini membuat dia merem-melek. Pemandangan seorang 
gadis kira-kira 19 tahun dengan lekuk tubuh yang montok nan seksi, payudara yang 
ranum dihiasi puting coklat dan liang vagina yang menonjol ditutupi bulu halus 
sedang dibasahi air dan sabun membuat nafsu birahi makin meningkat dan tentu 
  saja batangku mulai mendesak dari balik celana kantorku.
Melihat nafsuku mulai berontak dengan cepat kutanggalkan seluruh pakaian kerjaku 
di atas sofa, dengan perlahan kubuka pintu kamar mandiku, Yarmi yang sudah 
kembali membelakangiku, perlahan kudekati Yarmi yang membasuh sabun di bawah 
shower. Secara tiba-tiba tubuhnya kupeluk dan kuciumi leher dan punggungnya. 
Yarmi yang terkaget-kaget berusaha melepaskan tanganku dari tubuhnya. "Akh.. 
jangan Pak.. jangan.. tolong Pak..." Karena tenaganya lemah sementara aku yang 
makin bernafsu, akhirnya Yarmi melemaskan tenaganya sendiri karena kalah tenaga 
dariku. Bibir tebal dan merekah sudah kulumatkan dengan bibirku, tanganku yang 
satu membekap tubuhnya sambil menggerayangi payudaranya, sedangkan tanganku 
yang satunya telah mendarat di pangkal pahanya, vaginanya pun sudah kuremas. 
"Ahhh.. ahhh.. jja. jjangan.. Pak..." 
  "Tenang sayang.. nanti juga enak..."
Aku yang sudah makin buas menggerayangi tubuhnya bertubi-tubi membuat Yarmi 
mengalah dan Yarmi pun membalas dengan memasukkan lidahnya ke mulutku 
sehingga lidah kami bertautan, Yarmi pun mulai menggelinjang di saat jariku 
kumasukan ke liang vaginanya. "Arghh.. arghh... enak.. Pak.. argh..." Tubuh Yarmi 
kubalik ke arahku dan kutempelkan pada dinding di bawah shower yang membasahi 
tubuh kami. Setelah mulut dan lehernya, dengan makin ke bawah kujilati akhirnya 
payudaranya kutemukan juga, langsung kuhisap kukenyot, putingnya kugigit. 
Payudaranya kenyal sekali seperti busa. Yarmi makin menggelinjang karena 
tanganku masih merambah liang vaginanya. "Argh.. akkkhh... akhh... terus.. Pak... 
enak... terus..." Aku pun mulai turun ke bawah setelah payudara, aku menjilati 
seluruh tubuhnya, badan, perut dan sampailah ke selangkangannya dimana aku 
sudah jongkok sehingga bulu halus yang menutupi vaginanya persis di hadapanku, 
  bau harum tercium dari vaginanya.
Aku pun kagum karena Yarmi merawat vaginanya sebaik-baiknya. Bulu halus yang 
menutupi vaginanya kubersihkan dan kumulai menjilati liang vaginanya. "Ssshh.. 
sshh.. argh.. aghh... aw... sshhh.. trus... Pak.. sshh... aakkkhh..." Aku makin kagum 
pada Yarmi yang telah merawat vaginanya karena selain bau harum, vagina Yarmi 
yang masih perawan karena liangnya masih rapat, rasanya pun sangat menyegarkan 
dan manis rasa vagina Yarmi. Jariku mulai kucoba dengan sesekali masuk liang 
vagina Yarmi diselingi oleh lidahku. Rasa manis vagina Yarmi yang tiada habisnya 
membuatku makin menusukkan lidahku makin ke dalam sehingga menyentuh 
klitorisnya yang dari sana rasa manis itu berasal. Yarmi pun makin menggelinjang 
dan meronta-ronta keenakan tapi tangannya malah menekan kepalaku supaya tidak 
  melepaskan lidahku dari vaginanya.
"Auwwwhhh... aahhh... terus.. sedappp... Pakkkh..." 
"Yar... vaginamu sedap sekali... kalau begini... setiap malam aku pingin begini 
terus..." 
"Mmm.. yah.. Pak.. terus.. Pak... oohhh..." 
 
Yarmi makin menjerit keenakan dan menggelinjang karena lidahku kupelintir ke 
dalam vaginanya untuk menyedot klitorisnya. Setelah hampir 30 menit vagina Yarmi 
kusedot-sedot, keluarlah cairan putih kental dan manis serta menyegarkan 
membanjiri vagina Yarmi, dan dengan cepat kujilat habis cairan itu yang rasanya 
  sangat sedap dan menyegarkan badan.
"Ooohhh... ough... arghhh... sshh.. Pak, Yarmi... keluar.. nihhh... aahhh... sshh..." 
"Yar... cairanmu... mmmhh... sedap.. sayang... boleh.. saya masukin sekarang... 
batang saya ke vagina kamu? mmhh.. gimana sayang..." 
"Hmmm... boleh Pak.. asal.. Ibu nggak tahu..." 
 
Yarmi pun lemas tak berdaya setelah cairan yang keluar dari vaginanya banyak 
sekali tapi dia seakan siap untuk dimasuki vaginanya oleh batangku karena dia 
menyender dinding kamar mandi tapi kakinya direnggangkan. Aku pun langsung 
mendempetnya dan mengatur posisi batangku pada liang vaginanya. Setelah 
batangku tepat di liang vaginanya yang hangat, dengan jariku kubuka vaginanya dan 
  mencoba menekan batangku untuk masuk vaginanya yang masih rapat.
"Ohhh... Yarmi.. vaginamu rapat sekali, hangat deh rasanya... saya jadi makin suka 
nih..." 
"Mmmmhh... mhhh.. Pak.. perih.. Pak... sakit..." 
"Sabar.. sayang.. nanti juga enak kok, sabar ya..." 
 
Berulang kali kucoba menekan batangku memasuki vagina Yarmi yang masih 
perawan dan Yarmi pun hanya menjerit kesakitan, setelah hampir 15 kali aku tekan 
keluar-masuk batangku akhirnya masuk juga ke dalam vagina Yarmi walaupun 
hanya masuk setengahnya saja. Tapi rasa hangat dari dalam vagina Yarmi sangat 
mengasyikan dimana belum pernah aku merasakan vagina yang hangat melebihi 
kehangatan vagina Yarmi membuatku makin cepat saja menggoyangkan batangku 
  maju-mundur di dalam vagina Yarmi.
"Yar, vaginamu hangat sekali, batangku rasanya di-steam-up sama vaginamu..." 
"Iya.. Pak, tapi masih perih Pak..." 
"Sabar ya sayang..." 
Kukecup bibirnya untuk menahan rasa perih vagina Yarmi yang masih rapat alias 
perawan sedang dimasuki batangku yang besarnya 29 cm dan berdiameter 5 cm, 
wajar saja kalau Yarmi menjerit kesakitan. Payudaranya pun sudah menjadi bulan-
bulanan mulutku, kujilat, kukenyot, kusedot dan kugigit putingnya. "Ahh.. ahhh.. 
aah.. aww... Pak... iya Pak.. enak deh.. rasanya ada yang nyundul ke dalam memek 
Yarmi.. aahh..." Yarmi yang sudah merasakan kenikmatan ikut juga menggoyangkan 
pinggulnya maju-mundur mengikuti iramaku. Hal ini membuatku merasa 
menemukan kenikmatan tiada tara dan membuat makin masuk lagi batangku ke 
  dalam vaginanya yang sudah makin melebar.
Kutekan batangku berkali-kali hingga rasanya menembus hingga ke perutnya 
dimana Yarmi hanya bisa memejamkan mata saja menahan hujaman batangku 
berkali-kali. Air pancuran masih membasahi tubuh kami membuatku makin giat 
menekan batangku lebih ke dalam lagi. Muka Yarmi yang basah oleh air shower 
membuat tubuh hitam manis itu makin mengkilat sehingga membuat nafsuku 
bertambah yaitu dengan menciumi pipinya dan bibirnya yang merekah. Lidahku 
kumasukan dalam mulutnya dan membuat lidah kami bertautan, Yarmi pun 
membalas dengan menyedot lidahku membuat kami makin bernafsu. "Mmmhh... 
mmmhhh... Pak.. batangnya nikmat sekali, Yarmi jadi.. mmauu... tiap malam seperti 
  ini.. aaakh... aakkhh.. Paaakkhh.. Yarmi keeluuaarrr.. nniihh..."
Akhirnya bobol juga pertahanan Yarmi setelah hampir satu jam dia menahan 
seranganku dimana dari dalam vaginanya mengeluarkan cairan kental yang 
membasahi batangku yang masih terbenam di dalam vaginanya, tapi rupanya selain 
cairan, ada darah segar yang menetes dari vaginanya dan membasahi pahanya dan 
terus mengalir terbawa air shower sampai ke lantai kamar mandi dan lemaslah 
tubuhnya, dengan cepat kutahan tubuhnya supaya tidak jatuh. Sementara aku yang 
masih segar bugar dan bersemangat tanpa melihat keadaan Yarmi, dimana batangku 
yang masih tertancap di vaginanya. Kuputar tubuhnya sehingga posisinya doggy 
style, tangannya kutuntun untuk meraih kran shower, sekarang kusodok dari 
belakang. Pantatnya yang padat dan kenyal bergoyang-goyang mengikuti irama 
  batangku yang keluar-masuk vaginanya dari belakang.
Vagina Yarmi makin terasa hangat setelah mengeluarkan cairan kental dan membuat 
batangku terasa lebih diperas-peras dalam vaginanya. Hal itu membuatku 
merasakan nikmat yang sangat sehingga aku pun memejamkan mata dan melenguh. 
"Ohhh... ohhh.. Yar.. vaginamu sedap sekali, baru kali ini aku merasakan nikmat 
yang sangat luar biasa... aakkh.. aakkhh... sshhh..." Yarmi tidak memberi komentar 
apa-apa karena tubuhnya hanya bertahan saja menerima sodokan batangku ke 
vaginanya, dia hanya memegangi kran saja. Satu jam kemudian meledaklah 
pertahanan Yarmi untuk kedua kalinya dimana dia mengerang, tubuhnya pun makin 
merosot ke bawah dan cairan kental dengan derasnya membasahi batangku yang 
  masih terbenam di vaginanya. "Akhhh... aakkhh... Pak... Pakkhh... nikmattthhh..."
Setelah tubuhnya mengelepar dan selang 15 menit kemudian gantian tubuhku yang 
mengejang dan meledaklah cairan kental dari batangku dan membasahi liang vagina 
Yarmi dan muncrat ke rahim Yarmi, yang disusul dengan lemasnya tubuhku ke arah 
Yarmi yang hanya berpegang pada kran sehingga kami terpeleset dan hampir jatuh 
di bawah shower kamar mandi. Batangku yang sudah lepas dari vagina Yarmi dan 
masih menetes cairan dari batangku, dengan sisa tenaga kugendong tubuh Yarmi 
dan kami keluar dari kamar mandi menuju kamar tidur dan langsung ambruk ke 
  tempat tidurku secara bersamaan.
Aku terbangun sekitar jam 10.30 malam, itupun karena batangku sedang dikecup 
oleh Yarmi yang sedang membersihkan sisa-sisa cairan yang masih melekat pada 
batangku, Yarmi layak anak kecil menjilati es loli. Aku usap kepalanya dengan 
lembut. Setelah agak kering Yarmi bergeser sehingga muka kami berhadapan. Dia 
pun menciumi pipi dan bibirku. 
 
"Pak.. Yarmi puas deh... batang Bapak nikmat sekali pada saat menyodok-nyodok 
memek Yarmi, Yarmi jadi kepingin tiap hari deh, apalagi di saat air hangat mengalir 
deras di rahim Yarmi... kalau Bapak gimana? Puas nggak.. sama Yarmi...?" 
"Yar.. Bapak pun puas sekali.. Bapak senang bisa ngebongkar vagina Yarmi yang 
masih rapat.. terus terang... baru kali ini Bapak puas sekali bermain, sejak dulu 
sama istriku aku belum pernah puas seperti sekarang... makanya saya mau Yarmi 
siap kalau saya datang dan siap jadi istri kedua saya... gimana..?" 
"Saya mah terserah Bapak aja." 
"Sekarang saya pulang dulu yach.. Yarmi... besok aku ke sini lagi..." 
"Oke... Pak.. janji yach... vagina Yarmi maunya tiap hari nich disodok punya 
Bapak..." 
  "Oke.. sayang..."
Kukecup pipi dan bibir Yarmi, aku mandi dan setelah itu kutinggal dia di 
apartemenku. Sejak itu setiap sore aku pasti pulang ke tempat Yarmi terlebih dahulu 
baru ke istriku, sering juga aku beralasan pergi bisnis keluar kota pada istriku, 
padahal aku menikmati tubuh Yarmi pembantuku yang juga istri keduaku, hal ini 
sudah kunikmati dari tiga bulan yang lalu dan aku tidak tahu akan berakhir sampai 
  kapan, tapi aku lebih senang kalau pulang ke pangkuan Yarmi.
  Ohhhh.. Yarmi, pembantuku? Istri keduaku?

Tidak ada komentar: